| |
| Event Ayam Goreng Fatmawati |
Ribuan Warga Bogor Berebut Nasi Timbel (Media Indonesia) |
 |
BOGOR--MI: Ribuan warga Bogor yang tumpah ruah di Stadion Bogor Pajajaran, berebut nasi timbel, Minggu(15/6). Saking takut kehabisan, aksi saling sikut dan dorong sesama warga Bogor yang sudah memadati Stadion Bogor Pajajaran sejak pagi pun tidak bisa terhindarkan.
Tidak hanya sampai disitu, rangkaian acara rekor MURI untuk nasi timbel terpanjang dan terbesar di Kota Bogor, juga diwarnai aksi dorong antara warga dan petugas Satpol PP yang tengah melakukan pengamanan.
Petugas Satpol PP kesulitan membendung ribuan warga yang berdesak-desakan berebut untuk mendapatkan nasi timbel sebanyak dua ribu porsi yang disediakan panita. Akibatnya anak- anak yang ikut antri terpaksa tergencet kerumunan warga.
Aksi warga ini dipicu karena porsi dua ribu nasi timbel yang disediakan panitia tidak mencukupi untuk puluhan ribu warga yang hadir di Stadion Pajajaran, Jalan Pemuda, Kota Bogor. Rebutan nasi timbel itu menggambarkan tidak hanya warga miskin yang terus mengurusi masalah perut, semua kalangan pun seperti ini.
"Kirain enggak seperti ini. Saya tadi sudah ke depan, tapi didorong. Jadi dari pada nanti jatuh dan ke injek-injek, mending saya keluar saja,"kata Ani, salah seorang warga Pabaton.
Pembuatan nasi timbel dengan panjang 40 meter, dan diameter 15 cenimeter itu dibuat oleh empat puluh pekerja. Pembuatan nasi timbel terbesar dan terpanjang tersebut
merupakan satu dari salah satu rangkaian acara Hari Jadi Bogor yang ke-526. Nasi timbel tersebut direkomendasikan melalui notaris ke Musium Rekor Indonesia (MURI). (DD/OL-2)
http://www.mediaindonesia.com/index.php?ar_id=OTU1Nw |
| |
Ribuan Warga Bogor Berebut Nasi Timbel (Okezone) |
BOGOR - Rangkaian acara rekor Muri untuk nasi timbel terpanjang dan terbesar di Kota Bogor, Jawa Barat, diwarnai rebutan nasi timbel. Ribuan warga berdesak-desakan untuk berebut nasi timbel.
Berdasarkan pantauan di lapangan, Minggu (15/6/2008), warga yang memadati stadion Pajajaran Bogor harus berebut nasi timbel karena taku kehabisan. Aksi saling dorong warga dan petugas pun tidak terhindarkan. Tidak hanya itu, anak-anak yang ikut antre terpakse tergencet kerumunan warga.
Dalam rangka memecahkan rekor Muri ini tidak kurang dari 2.000 porsi nasi timberl disediakan oleh panitia. Namun karena pengunjung yang hadir di stadion itu membeludak, tak ayal panitia yang dibantu oleh petugas Satpol PP kewalahan.
Sementara itu, pembuatan nasi timbel dengan panjang 40 meter dengan diameter 14 cm serta dibuat oleh 40 pekerja akan direkomendasikan melalui notaris ke Museum Rekor Indonesia (Muri). (Endang Gunawan/Global/mbs)
|
| |
Bogor Bikin Nasi Timbel 40 Meter (Kompas) |
Penggerak PKK dan petugas lapangan Keluarga Berencana kelurahan dan kecamatan se-Kota Bogor membuat nasi timbel sepanjang 40 meter, dengan diameter 15 sentimeter di Stadion Pajajaran, Bogor, Jawa Barat, Minggu (15/6) pagi. Mereka berharap nasi timbel yang dibuat dalam acara hari Ngariung Sauyunan Tahun 2008 tersebut dapat dicatat di Museum Rekor Indonesia (Muri). Pembuatan nasi timbel tersebut melibatkan 30 orang yang bertugas sebagai juru masak dan 40 orang pembungkus nasi. Bahan bakunya terdiri dari 325 kilogram beras mentah yang menjadi 650 kilogram nasi. Selain itu, disiapkan 750 lembar daun pisang, 150 kilogram ayam, 30 kilogram sambal, dan 75 kilogram lalap. Nasi tersebut dimasak mulai hari Sabtu pukul 10.00 malam di Balai Teknologi Tepat Guna, Jalan Ceremai Ujung, Kelurahan Bantarjati, Kecamatan Bogor Utara. Ketua Panitia Penyelenggara Ngariung Sauyunan 2008, Rachmawati, mengatakan bahwa pembutaan nasi timbel ini sudah dicatat oleh notaris dan akan diusulkan masuk museum Muri. (RTS)
http://cetak.kompas.com/read/xml/2008/06/16/00392029/kilas.metro |
| |
Nasi Timbel Terpanjang Siap Masuk MURI (Kapanlagi) |
Kapanlagi.com - Nasi timbel terpanjang, yakni sepanjang 40 meter, akan memecahkan rekor MURI (Museum Rekor Indonesia), di Kota Bogor, Minggu (15/6).
Kepala Seksi Humas Pemerintah Kota Bogor, Eddy Rusjadi mengatakan, persiapan pemecahan rekor MURI tersebut sedang dikerjakan oleh panitia pelaksana, yakni sekitar 70 orang pekerja dari Pemerintah Kota Bogor dan dari Restoran Fatmawati, di Balai Teknologi Tepat Guna (TTG) Kota Bogor, sejak Jumat (13/6).
"Para pekerja tersebut sekitar 30 orang juru masak serta 40 orang petugas teknis lainnya," katanya kepada ANTARA di Bogor, Sabtu.
Dijelaskannya, bahan-bahan yang disiapkan para pekerja meliputi beras sebanyak 325 kg. Setelah dimasak, diperkirakan akan menjadi nasi sebanyak 650 kg. Bahan lainnya adalah, daun pisang sebanyak 750 lembar, daging ayam 150 kg, sambel 30 kg, dan lalap 75 kg.
"Nasi akan digulung dalam daun pisang menjadi nasi timbel berdiameter 15 cm dan panjang 40 meter," katanya.
Nasi timbel tersebut dibuat memanjang sepanjang 40 meter dan dilengkapi dengan lauk, sambal dan lalapan, dan bisa disantap oleh sekitar 2.000 orang sekaligus.
Dikatakannya, pemecahan rekor MURI nasi timbel terpanjang ini merupakan gagasan dari para pengurus penggerak PKK Kota Boor dan Restoran Fatmawati, guna memeriahkan peringatan Hari Jadi Bogor (HJB) ke-526.
Karena itu, penghargaan MURI akan diserahkan kepada Ketua Tim Penggerak PKK Kota Bogor dan pemilik restoran Fatmawati.
"Dipilihnya nasi timbel, karena merupakan makanan masyarakat Sunda, khususnya Bogor, yang menjadi daya tarik wisatawan datang ke Bogor," katanya.
Sebelum prosesi pemecahan rekor MURI, akan dilakukan beberapa kegiatan massal yakni gerak jalan santai dan pertandingan futsal antara pegawai Pemerintah Kota Bogor dengan para kepala wilayah yakni camat dan lurah. (*/boo)
http://www.kapanlagi.com/h/0000233784.html |
| |
Nasi Timbel Terpanjang Akan Pecahkan Rekor MURI (Bogornews) |
Bogornews --- Dua ribu porsi nasi timbel dengan panjang 40 meter, berdiameter 15 cm akan disajikan di Gelanggang Olah Raga (GOR) Pajajaran Bogor, Minggu (15/6) siang . Nasi timbel terpanjang untuk 2000 porsi ini akan dicatat dalam Museum Rekor Indonesia (MURI) yang akan disajikan dalam acara yang kemas dengan nama Ngariung Sauyunan. Day
Kepala Seksi Humas pada Dinas Informasi Kepariwisataan dan Kebudayaan (Disinparbud) Kota Bogor Eddy Rusjadi mengatakan, pembuatan nasi timbel itu melibatkan 30 orang yang bertugas sebagai juru masak, dan 40 pembungkus nasi.
Sedangkan bahan - bahan untuk pembuatan nasi timbel disiapkan 325 kg beras mentah, atau 650 kg nasi. Selain itu disiapkan 750 lembar daun pisang, 150 kg ayam, 30 kg sambal, dan 75 kg lalap.
Acara yang diprakarsai oleh Ketua Tim Penggegerak PKK Kota Bogor H Fauziah Diani Budiarto bekerjasama dengan PT Ayam Goreng Fatmawati ini digelar sebagai penutup rangkaian Hari Jadi Bogor ke 526.,
Nasi tersebut akan dimasak mulai pukul 22.00 malam dengan lokasi memasak di Balai Teknologi Tepat Guna (TTG) Jalan Ceremai Ujung Kelurahan Bantarjati Kecamatan Bogor Utara, ujar Eddy di Kantornya, Sabtu (14/6) malam
Rangkaian acara pemecahan Rekor MURI nasi timbel ini, akan diawali dengan kegiatan olah raga dan hiburan yaitu gerak jalan, senam sehat, futsal, tarik tambang, menyanyi dan joged balon.
Sementara peserta kegiatan yaitu seluruh aparat Kecamatan, Tim Penggerak PKK Kecamatan, Lurah beserta staf dan keluarga, Tim Penggerak PKK Kelurahan, PLKB (Petugas Lapangan Keluarga Berencana) dan para kader se Kota Bogor, Sesuai porsi timbel yang diundang berjumlah 2000 orang, kata Eddy. (iso)
http://www.bogornews.com/mod.php?mod=breaking&op=viewarticle&artid=1161 |
| |
Nasi Timbel Terpanjang Diusulkan Masuk Rekor MURI (Antara) |
Bogor, (ANTARA News) - Nasi timbel sepanjang 40 meter dengan diameter 15 cm dibuat di Stadion Pajajaran, Minggu, untuk memperingati hari jadi ke-526 Kota Bogor.
Nasi timbel tersebut dicetak menggunakan plastik dan dibungkus dengan daun pisang. Pengerjaannya dilakukan oleh 40 orang dalam waktu 76 menit.
Masakan khas Jawa Barat tersebut dicatat notaris untuk didaftarkan ke Museum Rekor Indonesia (MURI).
Bahan baku yang digunakan meliputi beras sebanyak 325 kg yang dimasak menjadi 650 kg nasi. Bahan lainnya adalah daun pisang 750 lembar, daging ayam 150 kg, sambel 30 kg, dan lalap 75 kg.
"Pencatatan data nasi timbel ini akan dibuatkan berita acara dan didaftarkan ke MURI untuk dicatat sebagai rekor MURI," kata notaris Mila Gemilang.
Penyelenggara pembuatan nasi timbel terpanjang, Johan Wahyudi, mengatakan pembuatan nasi timbel tersebut merupakan kerja sama antara Restoran Fatmawati, panitia hari jadi Bogor (HJB) ke-526, dan sponsor lainnya.
Bahanbaku pembuatan timbel seperti beras, lauk, dan tenaga kerja dari Restoran Fatmawati.
"Nasi timbel dibuat sepanjang 40 meter, karena restoran kami di Jabodetabek
memiliki 40 cabang," katanya.
Setelah nasi timbel selesai dibuat dan diukur, warga Kota Bogor yang datang
dipersilakan untuk mencicipi nasi beserta lauk-pauk berupa ayam goreng, tahu, lalap, dan sambal.
Warga yang sejak pagi sudah berada di stadion segera antre untuk mencicipi
masakan tersebut. Sebelumnya, warga mengikuti beberapa kegiatan yakni jalan santai, pertandingan futsal, dan tarik tambang.
Nasi timbel itu akhirnya tersisa sekitar 10 meter, sedangkan lauknya sudah habis, demikian pula sambal dan lalap (sayur-sayuran mentah), tidak tersisa
sedikitpun.(*)
http://www.imq21.com/imq_xt/index.php?option=com_inews&Itemid=35&task=
show
Detail&date=MjAwODA2MTU=&time=MTY1MzEx&headline=TmFzaSBUa
W1iZWwgVG
VycGFuamFuZyBEaXVzdWxrYW4gTWFzdWsgUmVrb3IgTVVSSQ |
| |
| Ayam Goreng Fatmawati ke-7 di Bogor |
 |
Demo atas kenaikan harga BBM yang baru-baru ini terjadi di Nusantara tidak banyak berpengaruh bagi warga bogor untuk berbelanja hemat. Benar, 28 Mei 2008 lalu Giant Taman Yasmin mulai beroperasi lengkap dengan fasilitas pendukungnya berupa restoran, foodcourt, tempat bermain anak, parkir yang luas dan fasilitas pendukung lainnya.
Ayam Goreng Fatmawati hadir sebagai salah satu daya tarik di area foodcourt. Terbukti dalam minggu pertama, area foodcourt, terutama di depan counter Ayam Goreng Fatmawati tidak pernah sepi dari kunjungan customer.
Ayam Goreng Fatmawati hadir mendekatkan diri kepada customer setia di seputaran Bogor Barat dan sekitarnya. Jika ingin menikmati hidangannya tanpa beranjak dari rumah, tinggal angkat telpon dan dial 0251-9345932, kami siap mengantarkan hidangan kami ke tempat anda. |
| |
Restoran Ayam Goreng Fatmawati Buka di Tanah Gayo |
Takengon merupakan ibukota kabupaten Aceh Tengah, merupakan daerah dataran tinggi yang berhawa sejuk. Banyak terdapat tempat wisata didaerah ini salah satunya adalah Danau Laut Tawar, Peteri Pukes, Pantan Terong. Sejarah kedatangan kaum kolonial Belanda sekitar tahun 1904, tidak terlepas dari potensi perkebunan tanah Gayo yang sangat cocok untuk budidaya kopi arabika, tembakau dan damar. |
 |
Potensi wisata Danau Laut Tawar dan masih jarangnya restoran semacam Fatmawati di daerah ini mendorong salah satu investor untuk berbisnis waralaba Resto Ayam Goreng Fatmawati di daerah Takengon. Dia adalah Ilyas Gordian,bapak 2 anak yang selain mencoba bisnis ini juga telah lama menggeluti dunia fotografi dengan membuka Toko Fuji Film, tempat cuci dan cetak foto. Mulai tertarik bergabung dengan Fatmawati sekitar bulan Juni tahun lalu, berjalan dengan konsultasi dengan
PT. AGFI sebagai Franchisor dan pemilik merk
dagang Ayam Goreng Fatmawati selama kurang lebih 10 bulan dan akhirnya pada hari Senin,
6 April 2008 dilakukan pembukaan resto untuk umum. Dengan luas bangunan kurang lebih 200 m2, resto ini terdiri dari 2 lantai, dan dilengkapi dengan 2 kamar mandi untuk pengunjung, 3 westafel, dapur, tempat duduk dengan kapasitas untuk 60 orang, fasilitas WiFi, sehingga pengunjung bisa mengakses internet secara gratis dan mes untuk tempat tinggal karyawan.
Pembukaan diramaikan dengan umbul-umbul, spanduk sponsor dari teh botol Sosro dan juga karangan bunga ucapan selamat yang datang dari rekan bisnis dan perusahaan setempat. Seperti: dr. Daniel, Toko Prima Langsa, Toko Prima Baru Stabat, National Celular, Toko Harco, Acin Kebet, PT. BRI (Persero) Tbk dan dari PT. AGFI. Sedangkan undangan yang disebar untuk hari pertama ini sebanyak 40 undangan dengan dibagi 2 waktu, yaitu jam 11 siang dan jam 2 siang. Selain tamu undangan, banyak juga masyarakat yang datang untuk menikmati masakan tradisional Indonesia di restoran ini. Kondisi cukup ramai, sehingga karyawan yang berjumlah 12 orang dan tim trainer dari PT. AGFI (Ibu Umiyanti dan Bp. Dodi) memerlukan tenaga ekstra untuk memberikan service yang baik kepada semua pengunjung. Sejak mulai dibuka jam 10 pagi, pengunjung terus berdatangan sampai pukul 22.00 WIB disaat restoran closing. Dengan kondisi masyarakat sekitar, owner hanya memasang target omset Rp. 2.000.000,-/hari. Tapi ternyata omset hari pertama/grand opening omset bisa melampui angka 3,5 juta, dan terus meningkat di hari berikutnya
|
| |
| Ayam Goreng Fatmawati Hadir di Carrefour Daan Mogot |
 |
| |
| |
| PT Ayam Goreng Fatmawati Indonesia
Manfaatkan Riset dan Pengembangan |

Proses pengolahan makanan tradisional yang relatif rumit membuat makanan tradisional jarang bisa disajikan dengan konsep restoran cepat saji sebagaimana makanan yang datang dari negara Barat.
Namun, fenomena ini terpatahkan setelah kehadiran PT Ayam Goreng Fatmawati Indonesia. Perusahaan yang menaungi 59 restoran dengan merek Restoran Ayam Goreng Fatmawati merupakan restoran cepat saji yang menyajikan makanan tradisional Indonesia.
Menu andalan restoran ini adalah Ayam Goreng Kuning dan Ayam Bakar.
Sebagai restoran dengan konsep cepat saji, menurut Direktur Utama PT Ayam Goreng Fatmawati Johan Wahyudi, makanan dijanjikan siap saji di hadapan pelanggan maksimum 10 menit.
Sayangnya, kalau penyajiannya melampaui waktu 10 menit, restoran ini tidak memberikan kompensasi kepada pelanggan sebagaimana yang sudah diterapkan di restoran cepat saji, misalnya, McDonald.
Sejak berdiri dalam bentuk perusahaan terbatas (PT) pada 28 Januari 2000, usaha yang sebenarnya berdiri sebagai restoran di kawasan Bogor pada 1986 itu telah menerapkan manajemen modern.
Restoran yang didirikan oleh tiga perempuan, yaitu Fatmawati, Erliza Hambali, dan Ratna Permanik ini dikemas sebagai restoran cepat saji dan menerapkan konsep franchise atau waralaba untuk pengembangan usahanya.
Dari 59 buah restoran yang tersebar di 15 kota besar di Indonesia itu, pendiri hanya memiliki lima buah. Sebanyak 54 restoran sisanya merupakan restoran milik mitra yang membeli waralabanya.
Siapa pun yang ingin membuka restoran dengan merek Ayam Goreng Fatmawati harus membayar fee waralaba Rp35 juta untuk masa pakai lima tahun dan memberikan 5% dari omzet kepada perusahaan ini.
"Pengusaha yang membuka restoran franchise kami, perkiraan kembali modalnya antara 1 tahun-1,5 tahun," ungkapnya kepada Bisnis.
Omzet restoran yang bisa juga dijumpai di pusat perbelanjaan modern ini minimum Rp24 juta-Rp150 juta per bulan per gerai atau restoran. Tingkat kegagalan mereka yang membuka usaha waralaba Ayam Goreng Fatmawati ini, menurut Johan, hanya kurang dari 10%.
Tak heran, jika perusahaan yang secara keseluruhan telah mempekerjakan 900 karyawan ini mendapat penghargaan sebagai The Best Entrepreneur Indonesia Franchise of The Year 2007 dari Asosiasi Franchise Indonesia dan Majalah Info Franchise.
Perusahaan ini juga masuk sebagai nominee dalam penghargaan Anugerah Produk Asli Indonesia (APAI) 2007 yang diselenggarakan oleh Bisnis Indonesia, Universitas Bina Nusantara dan Departemen Perdagangan RI.
Sebagai restoran cepat saji dengan konsep waralaba, proses pengolahan produk dan bumbu yang dipakai setiap restoran sudah distandardisasi. Ayam di restoran ini menggunakan ayam jantan dengan proses perebusan 30 menit dan penggorengan selama tiga menit.
Bisa diterima
Dari sisi rasa, kata Johan, makanan di restoran ini cukup bisa diterima oleh lidah orang dari berbagai suku. Terbukti, cabang restoran Fatmawati di luar Pulau Jawa pun bisa berkembang baik.
Meski demikian, kalau ada pelanggan yang meminta rasa asinnya di kurangi, misal pelanggan di pusat kebugaran, restoran ini juga tak keberatan menuruti keinginan konsumen.
Kompetisi di penjualan ayam goreng dan makanan tradisional, diakuinya sangat ketat. Saat ini, banyak makanan tradisional pendatang baru dengan konsep baru. Dalam perkembangannya merek Restoran Ayam Goreng Fatmawati dengan tagline makanan asli Indonesia dirasa menjadi penghalang bagi kemajuan bisnis ini.
"Kami sedang mempertimbangkan mengganti mereknya dengan menghilangkan kalimat ayam goreng dan makanan asli Indonesia," ungkapnya.
Kalimat ayam goreng yang melekat di merek Restoran Fatmawati sering mengganggu penjualan. Johan mencontohkan saat isu flu burung sedang gencar-gencarnya pada 2003, omzetnya sempat anjlok hingga 40%. Padahal, restoran ini tak hanya menyajikan ayam goreng.
Ayam goreng justru hanya sebagian kecil dari menu yang disajikan oleh restoran ini. Menu lainnya berupa pepes, gorengan, sapi, makanan laut, dan lainnya, jumlahnya justru lebih banyak.
Perusahaan juga mengalami masa panen, yaitu saat bulan puasa yang membuat penjualan meningkat 20%. Secara keseluruhan pertumbuhan omzet per tahunnya mencapai sebesar 18%.
Dengan tujuan menjaga kualitas produk, PT Ayam Goreng Fatmawati Indonesia juga memiliki divisi riset dan pengembangan (R&D). Di divisi R&D ini, perseroan selalu melakukan riset terhadap proses produksi, teknik penyimpanan dan penanganan makanan.
Divisi ini juga melakukan pengendalian bahan baku restoran yang meliputi pengendalian fisik, pengendalian akuntansi, pengendalian jumlah barang, pelatihan operasional restoran, standar dan gizi masing-masing produk hingga menciptakan menu baru untuk meningkatkan variasi makanan.
Perusahaan ini berkembang bukan karena promosi yang hebat. Strategi kehumasan, sedikit promosi di koran, kerja sama dengan pihak ketiga dan sedikit promosi di radio menjadi andalan untuk memperkenalkan produk ini ke masyarakat.
Sebagai bisnis jasa, perusahaan menyadari kepuasan pelanggan merupakan hal utama bagi kemajuan perusahaan. Oleh karena itu, restoran ini biasa menjaring saran ataupun kritik dari pelanggan dengan cara menyebarkan kuesioner.
Mulai Januari tahun ini, Restoran Fatmawati juga berupaya menjaring loyalitas pelanggan dengan membuat kartu keanggotaan. Kartu keanggotaan dengan biaya registrasi Rp10.000 itu baru ada di Bandung dan Jakarta. Saat ini, sudah ada sedikitnya 10.000 pelanggan yang memiliki kartu keanggotaan tersebut.
Ke depan, bisnis jasa restoran diharapkan bisa ekspansi sampai ke luar negeri. Saat ini, kata Johan, sudah ada yang meminta Restoran Fatmawati untuk membuka cabang di Amerika Serikat. (suli.murwani@bisnis.co.id)
Suli H. Murwani
Bisnis Indonesia
ed : Minggu, 10/02/2008 |
| |
| Ayam Goreng Fatmawati Buka Outlet di MP Square |
Sumber : Fajar ( http://www.fajar.co.id/)
Sabtu, 29/12/2007
MAKASSAR -- Persaingan usaha waralaba makanan, tidak hanya diramaikan pemain asing. Usaha waralaba nasional pun, begitu agresif mengembangkan jaringan. Salah satunya, Ayam Goreng Fatmawati, yang membuka outlet ke 58 di Mal Panakkukang (MP) Square, lantai satu, sore kemarin.Direktur Utama PT Ayam Goreng Fatmawati Indonesia Johan Wahyudi S.TP, kepada Fajar, mengatakan cabang ke 58 ini sekaligus sebagai outlet pertama di Sulawesi sejak franchise nasional itu beroperasi 1990 lalu.
"Kami optimis dapat diterima konsumen di Makassar. Karena, pengunjung outlet kami yang di Jakarta, juga banyak orang dari Makassar," ungkap Johan.
Apa daya tarik restoran waralaba itu? Johan didampingi Chandra sebagai mitra franchise, mengatakan Ayam Goreng Fatmawati menyajikan menu higienis. Untuk ayam goreng, menggunakan ayam kampung yang diramu secara khusus dengan bumbu istimewa khas Ayam Goreng Fatmawati.
Selain itu, ayam goreng dengan standar rasa yang sama di seluruh outlet, Ayam Goreng Fatmawati juga menawarkan menu khas Sop Iga dan Sop Buntut.
"Tiga menu ini menjadi andalan di semua outlet kami," kata Johan. Ayam Goreng Fatmawati, memiliki lebih dari 40 jenis makanan dengan bahan ayam kampung, cumi-cumi, udang, ikan, beraneka pepes, dan lain-lain.
Secara umum, kata Johan outlet Ayam Goreng Fatmawati terdiri dari dua jenis, yakni food court dan restoran. Untuk kelas restoran seperti yang dibuka di MP Square, diperkirakan membutuhkan investasi minimal Rp200 juta, sedangkan food court sekitar Rp115 juta.
"Dari pengalaman di sejumlah kota, masa Break Event Point (BEP) rata-rata dua tahun," katanya.
Dari sisi harga, lanjut Johan, juga sangat bersaing. Harga makanan Ayam Goreng Fatmawati, sekitar Rp13 ribu hingga Rp20 ribu per porsi. "Jadi, cukup terjangkau untuk segmen menengah," tandasnya. (upi)
|
| |
| Pembukaan AGF Kuningan, Jawa Barat |
 |
Iedul Adha, Iedul Qurban atau orang Kuningan menyebutnya sebagai Lebaran Haji memang merupakan hari yang penuh makna. Setelah melaksanakan Sholat Ied di pagi hari yang dilanjutkan dengan pemotongan hewan qurban dan membagikan daging itu ke masyarakat sekitar, keesokan harinya Pak Tatang mengundang rombongan anak yatim untuk bersantap di restorannya yang baru yang terletak di Jl. Raya Bandorasa No. 102 Cilimus, Kuningan 45556.
Setelah berbagi, berdoa untuk keselamatan dan kesuksesan restoran, Ayam Goreng Fatmawati cabang Kuningan resmi dibuka untuk umum pada Sabtu tanggal
22 Desember 2007. Lokasi yang berdekatan dengan pusat rekreasi Sangkan Hurip memberikan kesan tersendiri, mempermudah akses para wisatawan dan karena letaknya di jalan utama namun tetap nyaman, membuat masyarakat setempat dengan mudah menjangkau lokasi restoran ini.
Menggabungkan tempat duduk dengan konsep kursi dan lesehan, ciri khas daerah sunda sangat kental terasa. Dengan area seluas 400 m2, restoran ini juga bisa diperuntukkan bagi resepsi pernikahan, ulang tahun, meeting, pertemuan dan lain-lain yang membutuhkan makanan sebagai pelengkapnya.
Lapangan parkir yang sangat luas bisa dijejali dengan beberapa bis besar dan mobil-bobil kecil. Menjamin keamanan kendaraan konsumen.
|
| |
| Ayam Goreng Fatmawati ke Serambi Mekah |
 |
Tanggal 14 Desember 2007 yang lalu terjadi peristiwa penting di Kinanti Office Hotel Salak Bogor, markas PT. Ayam Goreng Fatmawati Indonesia (PT. AGFI). Bertapa tidak, pada hari itu resmi ditanda-tanganinya perjanjian kerjasama franchise antara Johan Wahyudi sebagai pimpinan PT. AGFI dengan Bapak Ilyas Gordian, pengusaha dari Takengon Aceh untuk pembukaan restoran Ayam Goreng Fatmawati di Takengon-Aceh.
Saluut untuk Pak Ilyas, berani membuka pasar dan mengembangkan daerahnya menjadi daerah perekonomian yang cukup aktif. Beberapa tahun lalu Bapak yang satu ini berhasil mengembangkan gerai Fuji Image Plaza sekaligus sebagai pelopor cetak foto digital disana.
Saat ditanya mengapa berani buka restoran Ayam Goreng Fatmawati di Takengon, beliau menjawab "Kalau tidak sekarang, kapan lagi masyarakat Takengon bisa lebih maju? Saya mungkin disebut orang gila, kok berani buka restoran besar di daerah". Tapi PT. AGFI yakin, pasar disana sangat potensial. Biasanya memang agak tersendat kalau jadi pelopor, tapi setelah pasar terbentuk sang pelopor akan mempunyai pasar terbesar disana. Dan PT. AGFI sangat mendukung jiwa-jiwa entepreneur seperti ini dengan dukungan system yang baik dan support dari kantor pusat yang mumpuni.
Selamat bergabung di Ayam Goreng Fatmawati, semoga dari daerah paling barat ini kita bisa terus membangun ke daerah lainnya di sebelah timur. |
| |
| Hotel Nikko-Jakarta, 12 Desember 2007 |
 |
Setelah salah satu franchisee Ayam Goreng Fatmawati, Ibu Yenti mendapatkan penghargaan sebagai The Best Entepreneur Franchisee of the Year 2007, kini giliran PT. AGFI sebagai pemilik merek Ayam Goreng Fatmawati menjadi nomine untuk Anugerah Produk Asli Indonesia 2007 yang diselenggarakan oleh Harian Bisnis Indonesia bekerjasama dengan Departemen Perindustrian dan Departemen Perdagangan Republik Indonesia.
Walaupun akhirnya penghargaan Anugerah produk Asli Indonesia 2007 untuk kategori franchise diserahkan kepada Oxford English Course, tetapi Ayam Goreng Fatmawati bangga bisa bersanding dengan perusahaan franchise lokal lainnya yang menjadi nomine; Papa Ron's Pizza dan Edam Burger. |
| |
| Ayam Goreng Fatmawati
Tangkis serbuan fast food asing |
| Sumber : Bisnis Indonesia
Rabu, 12/12/2007
Nominee APAI 2007
WARALABA
Sejak 1990, Ayam Goreng Fatmawati telah menjadi restoran tradisional besar pertama yang menyajikan masakan asli Nusantara untuk menangkis gencarnya serbuan makanan fast food dari mancanegara ke Bogor.
Pada tahap awal restoran tradisional ini diterapkan melalui sistem perusahaan keluarga perseroan dengan memiliki beberapa cabang seperti di Bogor, Jakarta, Cinere dan beberapa tempat lainnya. Namun sejak PT. Ayam Goreng Fatmawati Indonesia terbentuk pada 2000, restoran Ayam Goreng Fatmawati dikembangkan dengan sistem franchise (waralaba).
Di antara menu andalannya adalah Ayam Goreng Kuning dan Ayam Bakar yang diolah menggunakan berbagai rempah-rempah asli Indonesia secara khas sehingga tercipta Ayam Kuning dan Ayam Bakar dengan bumbu meresap sampai kedalam tulang.
Untuk mendekatkan diri ke pelanggan dan memperluas brand Ayam Goreng fatmawati, PT. AGFI juga meluncurkan website Restoran Ayam Goreng Fatmawati. (Bisnis/02) |
| |
| Franchise Gathering, Kinanti Music Cafe, 10 November 2007 |
 |
Menjalin komunikasi dengan franchisee sangat perlu dilaksanakan dalam bisnis franchise. Untuk menampung ide, gagasan, keluhan, saran dan kritik dari franchisee dan karyawan restoran, hari Sabtu tanggal 10 November 2007 yang lalu, PT. AGFI mengadakan Franchise Gathering yang dilakukan rutin setiap 4 bulan sekali.
Dalam pada itu, management PT. AGFI juga memaparkan evaluasi program yang dijalankan selama tahun 2007 dan komunikasi program yang akan dilaksanakan pada tahun 2008.
Ajang ini juga menjadi arena untuk memperkenalkan sponsor-sponsor baru yang akan bekerjasama dalam kegiatan promosi di restoran Ayam Goreng Fatmawati. Selain itu, ada demo masak dan penjelasan tentang menu baru yang akan di-launching pada tahun 2008. |
| |
| Yenti Rifai, The Best Franchisee in Business and Management |
 |
| |
| Ayam Goreng Fatmawati, Tak Sekedar Menjual Ayam Goreng |
 |
| |
| Ny.Fatmawati, Awalnya Mendirikan Usaha Demi Menyambung Hidup |

Sumber : Majalah Info Franchise Indonesia, edisi 15 September - 13 Oktober 2007
Lewat keuletan dan ketegarannya, restoran tradisional Ayam Goreng Fatwamati yang dirintisnya pada 1990 berkembang pesat. Kini restonya telah menjadi sebuah resto franchise profesional dengan jumlah gerai 56 buah .
Ny. Fatmawati, kelahiran Cirebon 21 April tahun 1955 ini bisa dibilang wanita yang sangat tegar dalam menjalani hidup. Betapa tidak, ketika anak-anaknya beranjak dewasa dan membutuhkan banyak biaya ia sudah harus menjadi orang tua tunggal. Keadaan tersebut tentunya memaksa ibu Fatmawari harus berpikir keras untuk bisa menghidupi ketiga anak-anaknya yang berjumlah tiga orang.
Demi menyambung hidup, pernah ia jualan Gudeg lantas dikirim ke toko-toko di kota Bogor. Sempat pula buka warteg, makan-makanan untuk mahasiswa. Namun semua tidak bisa berjalan langgeng. “Usaha itu saya lakukan pada tahun 1986 demi untuk menghidupi keluarga,” kenangnya lirih.
Beruntung, sejak muda Ibu Fatmawati gemar meracik bumbu-bumbu. Dari kegemarannya itu kemudian muncul ide untuk mencoba membuat usaha restoran tradisional ayam goreng. Akhirnya, tepat pada Desember 1990, ide tersebut diwujudkannya dengan membuka resto di Jl. Sawojajar No.7 Bogor. “Waktu itu saya buka pertama kali di Sawojajar No. 7, Bogor, waktu itu Desember tahun 1990 kalau tidak salah,” ujarnya.
Pertama dibuka, resto ayam gorengnya tidak langsung ramai. Namun begitu, ibu dari Santi, Yudi dan Yuki ini tak patah semangat. Ia optimis usaha yang dirintis bisa berkembang karena resep atau bumbu yang dipakai adalah hasil racikannya sendiri dan orang belum mengenalnya.
Terbukti, lambat laun pengunjung restonya makin banyak dan suka dengan rasa khas ayam goreng ala ibu Fatmawati. Darisitu, ia semakin tambah yakin akan masa depan usahanya. Keinginan untuk lebih memperbanyak cabang kemudian terbersit dalam benaknya.
Sampai akhirnya, ia menggandeng dua temannya, Ibu Reza Hambali dan Ibu Ratna Permanik untuk bekerjasama dengan mendirikan PT Ayam Goreng Fatmawati Indonesia (AGFI) dan dikembangkan dengan sistem franchise. “Saya mendirikan PT AGFI pada 26 Januari 2000 karena saya pikir kalau berjalan sendiri tidak akan bisa berkembang,” kata Ibu Fatmawati menerangkan alasannya mengajak dua termannya itu untuk bekerjasama.
Tepat, setelah bekerjasama dengan dua temannya itu, usaha restonya tambah berkembang pesat. Ayam Goreng Fatmawati semakin banyak dikenal orang. “Sekarang setelah saya membentuk PT dan sekaligus membuka franchise bekerja sama dengan Ibu Reza Hambali dan Ibu Ratna, akhirnya bisa berkembang ke mana-mana. Untuk mengembangkan franchise itu kan memang harus mendirikan PT dahulu,” imbuhnya bangga.
Kini setelah lebih dari 7 tahun difranchisekan, Ayam Goreng Fatmawati telah berkembang dengan 56 outlet yang tersebar di Jakarta, Bandung, Pekan Baru, Batam dan Semarang. Dari jumlah itu 52 adalah milik franchisee.
Asal tahu saja, sebelum membentuk PT AGFI pada 2000, sebenarnya Ibu Fatmawati sudah memiliki 9 cabang. “Dulu saya punya beberpa di Jakarta, sepert Jl. Fatmawati, Jl. Sabang dan di Tanah Abang. Total waktu itu saya sudah punya. sekitar 9 cabang,” ungkapnya. Bahkan karena dedikasinya sebagai seorang entrepreneurs wanita , Ibu Fatmawati pernah 3 kali mendapatkan penghargaan Kartini dari Pemerintah. Dan di tahun 1996 juga juga pernah mendapat penghargaan Pengusaha Indonesia.
Jatuh bangun
Ibu Fatmawati menerangkan, usahanya bisa berkembang seperti sekarang ini tidak mudah, Dilalui dengan usaha keras dan jatuh bangun. Pernah restonya di daerah Cinere hancur terkena angin rebut. Yang lain restonya di daerah Internusa, mal terbesar di Bogor juga pernah kebakar habis. Tidak hanya itu saja, pada 1997-1998 ketika kerusahan melanda Indonesia, 9 cabang resto miliknya tutup akibat dilempari dan dibakar.
Kalau di total kerugian yang dialami Ibu Fatmawati tak terhitung besarnya. Namun sekali lagi, semua itu tak lantas mematahkan semangatnya untuk bangkit dan bangkit lagi.
Dijelaskan, ia sangat bersyukur usahanya bisa sebesar sekarang ini. Pasalnya ketika pertama mendirikan resto Ayam Goreng tidak kebayang akan besar. Karena memang sejak awal semua usaha dijalankan hanya sekedar untuk memenuhi kebutuhan hidup. “ Saya tidak pernah terbayang seperti sekarang. Tadinya saya cuma menekuni usaha sekedar memenuhi kebutuhan hidup keluarga saya saja. Tidak sampai terpikir bagaimana, karena saya kan sudah tidak punya suami dan anak 3. Yang penting cukup buat makan dan biaya sekolah,” beber wanita yang mengaku hanya tamat SMA ini.
Ditambahkan Ibu Fatmawati, selama menjalankan usaha resto ayam goreng lebih banyak sukanya bandingkan duka. “Apalagi kalau makanannya bisa diterima dengan baik oleh masyatakat,” tandasnya. Namun begitu yang lebih menyenangkan lagi adalah lewat usaha Ayam Goreng Fatmawati ia bisa mempekerjakan banyak orang yang berpendidikan rendah. “Tidak seperti perusahaan-perusahaan sekarang yang kebanyakan hanya mau menerima orang yang berpendidikan tinggi, padahal berpendidikan rendah itu banyak,” terang wanita yang pernah bercita-cita menjadi dokter namun tidak kesampaian ini.
Setelah 17 tahun perjalanan usahanya, kini Ibu Fatmawati bisa dibilang tengah menikmati kebahagiaannya. Operasional usahanya sudah bisa ia estafetkan dengan mulus kepada anak-anaknya. Meski begitu, masih ada keinginan lain yang ingin diwujudkannya yakni mengembangkan Ayam Goreng Fatmawati hingga ke seluruh Indonesia. Bahkan tidak menutup kemungkinan sampai ke ke luar negeri. “Saya punya cita-cita ingin mengembangkan Fatmawati sebanyak mungkin, inginnya saya se-Indonesia dan luar negeri agar bisa mempekerjakan lebih banyak orang lagi,” harapnya penuh optimis.
Karena itu, lanjut Ibu Fatmawati ia selalu mewanti-wanti manajemen AGFI untuk selalu menjaga dan mempertahankan rasa dan kebersihan. Karena bagaimanapun juga usaha resto memiliki kaitan erat dengan keduanya. “Di usaha resto masalah rasa dan kebersihan harus dipertahankan. Kalau rasanya meleset sedikit saja orang sudah komplain,” saran wanita yang kini waktunya banyak dihabiskan di Batam ini.
Zaziri |
| |
| Ir. Yenit, Franchisee Ayam Goreng Fatmawati. Awalnya Karena Di-PHK |
 |
 |
| |
|
| |
Memasak : Asyik & Praktis |
| |
 |
| |
Cara lain merayakan Kemerdekaan Republik Indonesia dilakukan oleh PT. Ayam Goreng Fatmawati dan Pasaraya. Sehari setelah upacara peringatan Kemerdekaan Republik Indonesia ke-62, demo "Memasak : Asyik & Praktis" diselenggarakan di Basement 2 Pasaraya Grande, Blok M.
Bukan tidak ada hubungannya antara kemerdekaan, nasionalisme dan Demo Masak loh. Karena pada acara ini, masakan yang dipertontonkan cara membuatnya merupakan masakan asli Indonesia. Resep dan pengolahan dirancang oleh Ibu Fatmawati sebagai founder Ayam Goreng Fatmawati, restoran dan foodcourt yang sudah cukup dikenal di Indonesia, khususnya di Jabodetabek.
Selaras dengan misi yang diemban untuk melestarikan masakan tradisional Indonesia, PT. Ayam Goreng Fatmawati Indonesia (PT. AGFI) sebagai management resto-foodcourt Ayam Goreng Fatmawati menggandeng perusahaan minuman lokal PT. Sinar Sosro dalam penyelenggaraan acara ini. Bahkan PT. Nestle Indonesia, perusahaan multinasional ikut mendukung acara ini, diikuti oleh komitmen untuk mengembangkan produk lokal yang bersaing dari PT. Liza Herbal International (Dr. Liza) dan PT. Adev Natural Indonesia (Sabun Transparan).
Bagaimanapun juga, masakan dan produk Indonesia tidak kalah bersaing dengan produk-produk dari luar negeri. Bahkan ada seorang tokoh yang mengatakan bahwa "masakan Indonesia itu banyak sekali yang cocok dengan lidah orang dari berbagai bangsa, tidak seperti masakan dari negeri lain..."
Viva Indonesia....MERDEKA...!!! |
| |
|
| |
Premium Pass for Premium Customer |
| |
Menjelang bulan puasa 1428 H, kembali PT. Ayam Goreng Fatmawati Indonesia dan PT. Sodexho Indonesia menyelenggarakan paket promo yang diberi nama "Pemium Pass". Voucher Sodexho yang satu ini merupakan voucher istimewa yang ditujukan untuk kalangan atas.
Voucher ini bisa ditukarkan dengan paket menu Ayam Goreng Fatmawati di 9 gerai pilihan di Jakarta, Bandung dan Surabaya.
Dapatkan pelayanan premium di :
No. |
Nama Outlet |
Lokasi |
No. Tlp. |
1 |
Plaza Semanggi |
Cosmo Food Plaza Lt. 3A, Jl. Jend Sudirman Kav. 50 Jakarta 12930 |
021-25536383 |
2 |
Mal Artha Gading |
FoodCourt Lt. 2, Jl. Bulevar Artha Gading Selatan no.1 Jakarta 14250 |
021-45864117 |
3 |
BG Junction |
Restoran Lt. Lower Ground, Persimpangan Jl. Bubutan, Jl. Blauran dan Jl. Kranggan - Surabaya |
031-5348148 |
4 |
CITOS |
Cilandak Town Square , Restoran Lt. 1 No. 151 |
021-75920275 |
5 |
Pasaraya Grande |
Food Plaza , Lt. Basement I, Jl. Iskandarsyah II/2, Blok M Jakarta Selatan 12160 |
021-7227512 |
6 |
Hero Gatot Subroto |
FoodCourt Lt. Dasar, Gedung Hero Supermarket, Jl. Gatot Subroto No. 177A FoodCourt Lt. Dasar |
021-93476072 |
7 |
Bandung Supermall |
FoodCourt Lt. 2, Jl. Gatot Subroto, Bandung |
022-910 1417 |
8 |
Bandung Indah Plaza |
FoodCourt Lt. 3, Jl. Merdeka No. 56, Bandung |
022-422 3273 |
9 |
Istana Plaza Bandung |
FoodCourt Lt. 3, Jl. Pasirkaliki 121-123 Bandung |
022-604 6732 |
|
| |
 |
| |
|
| |
 |
| |
|
| |
FREE Teh Botol Sosro |
| |
 |
| |
Periode bulan Juli sampai dengan Agustus 2007, Ayam Goreng Fatmawati bersama dengan Sodexho, salah satu perusahaan provider service voucher mengadakan program promosi "Gratis TehBotol Soso" untuk setiap pembelian makanan menggunakan voucher Sodexho.
Pemegang voucher Sodexho mendapatkan gratis TehBotol jika bertransaksi di gerai Ayam Goreng Fatmawati* senilai minimal Rp. 50.000,-
Dengan program ini, diharapkan Ayam Goreng Fatmawati semakin mengukuhkan brand image sebagai makanan sehat dimata para professional yang merupakan klien utama PT. Sodexho Indonesia. |
| |
|
| |
Ayam Goreng Fatmawati, Pelestari Masakan Tradisional Indonesia |
| |
Sabtu, 04/11/2006
Sumber :
http://www.seputar-indonesia.com/edisicetak/food/ayam-goreng- fatmawati-pelestari-masakan-tradisional-indo.html
Kelezatan makanan khas Nusantara untuk dinikmati dan dilestarikan.
SEJAK berdiri pada 1986, Restoran Ayam Goreng Fatmawati (AGF) bertahan melestarikan masakan tradisional Indonesia. Kini AGF telah memiliki 53 outlet di seluruh Indonesia. AGF terus berupaya menciptakan pasar bagi petani dan peternak lokal serta memberikan kesempatan kepada investor membuka restoran dengan sistem franchise atau waralaba usaha.
“Ayam Goreng Fatmawati merupakan restoran cepat saji semi-self service. Visi kami menjadi restoran cepat saji semiprasmanan dengan hidangan sehat ala Indonesia, bergizi dan terus berkembang di Indonesia dan dunia internasional,” ujar General Manager PT Ayam Goreng Fatmawati Indonesia Johan Wahyudi.
Menurut Johan, AGF didirikan oleh Fatmawati, Erliza Hambali, dan Ratna Permanik. Menu andalan pada awalnya adalah ayam goreng kuning dan ayam bakar. Pengolahannya menggunakan bumbu rempah-rempah alami asli Indonesia. Tidak ada makanan yang menggunakan bahan pengisi. Hasilnya, bumbu pun meresap sampai ke tulang ayam. Dengan pengolahan yang sama, AGF terus mencoba menyajikan menu yang baru.
“Sekarang, menu kami tidak hanya ayam. Pengunjung juga dapat menikmati sea food dan daging iga,” tutur Johan. Bagi AGF, inovasi merupakan suatu keharusan. AGF terus melakukan upaya menciptakan standar menu menggunakan bumbu instan alami. Tim riset AGF akhirnya menciptakan bumbu standar dengan bentuk serbuk (powder) yang sangat mudah digunakan dan lebih efisien.
Sejak 28 Januari 2000, AGF mulai menggunakan sistem franchise. Kini, AGF memiliki 53 outlet. Johan menjelaskan, akan ada penambahan 13 outlet baru setiap tahunnya. Konsep franchise ini dirancang untuk memberikan panduan, solusi, dan alternatif bagi pengusaha. Mulai dari standard operation procedure (SOP) manajemen restoran, marketing dan promosi, SOP memasak, SOP karyawan, materi promosi sampai masalah higienis.
Untuk menjalin komunikasi dengan konsumen dan pemilik outlet, AGF meluncurkan website Restoran Ayam Goreng Fatmawati, yaitu www.fatmawati.com. Masyarakat dapat mengakses berbagai informasi secara online tentang produk, franchise, berita terkini, dan inovasi tentang AGF. (evi panjaitan) |
| |
|
| |
Menjemput Uang dengan Waralaba
29-09-2006 - 09:56:52
Tak ingin kehilangan peluang menekuni bisnis makanan, para pemodal buru-buru meminang pemilik waralaba untuk segera mewaralabakan usahanya.
Keuntungan berinvestasi dalam bidang franchise menjanjikan keuntungan yang menggiurkan ketimbang menaruh uangnya di deposito. Yang menarik, selain produknya makin beragam, rentang nilai investasinya pun kian lebar. Kalau dulu untuk investasi waralaba membutuhkan modal mulai dari Rp100 juta hingga Rp3 miliar, belakangan tawarannya kian bergerak ke bawah.
.:: Coba Menerobos "Pakem" ::.
Bagi Amir Karamoy, maraknya tawaran waralaba belakangan ini tak begitu mengejutkan. Sebab, di mata pengamat sekaligus konsultan bisnis waralaba itu, Indonesia memang lahan subur untuk mengembangkan bisnis ini. Selain karena potensi pembelinya yang berlimpah, regulasinya pun belum terlalu berbelit. Bisnis ini cuma diatur oleh Peraturan Pemerintah dan SK Menteri Perindustrian dan Perdagangan. Ayam Goreng Fatmawati, usaha rumah makan yang diusung oleh tiga wanita (Dr. Ir. Erliza Hambali, Ratna Permanik dan Hj. Fatmawati) langsung menyiapkan sistem waralaba justru saat mulai mendirikan usahanya pada tahun 2000. Alasannya, mereka ingin usahanya itu bisa segera menampung limpahan tenaga kerja yang ada di pasar. Kini mereka melenggang di pasar dengan mengusung waralaba ayam gorengnya.
Apa yang dilakukan Ayam Goreng Fatmawati jelas menerobos pakem bisnis waralaba. Pasalnya, menurut Amir Karamoy, biasanya sebuah perusahaan baru berani mewaralabakan usahanya apabila telah berhasil mengembangkan bisnisnya sendiri. Bahkan, kata dia, dalam salah satu SK Menperindag tentang bisnis waralaba disebutkan bahwa perusahaan tersebut harus bisa menunjukkan kinerja usahanya dalam tiga tahun berturut-turut. "Jadi sudah terbukti bahwa usahanya bisa berjalan, sehingga orang yang mau berinvestasi memiliki pegangan", katanya. Tapi toh Ayam Goreng Fatmawati terus berkibar dengan ayam goreng kuning dan ayam bakarnya.
Hasilnya juga tak mengecewakan. Saat ini ada lebih dari 40 gerai Ayam
Goreng Fatmawati yang menyerap 500 tenaga kerja. Jumlah tersebut langsung menjejeri gerai salah satu Rumah Makan franchise lokal lainnya.
Alasan mereka yang sukses mengembangkan usaha waralaba pada umumnya ingin berbagi keberhasilan lewat cara waralaba.
.:: Urusan Perut Paling Dominan ::.
Meski tawaran kian beragam, hingga kini usaha waralaba makanan masih mendominasi. Menurut catatan sebuah sumber, dalam dua tahun terakhir, ada lebih dari sepuluh tawaran waralaba makanan yang masuk ke pasar. Menurut Amir Karamoy, ini wajar saja karena peluang bisnis makanan dan minuman memang masih terbuka lebar. "Orang masih butuh makan dan minum," tegasnya.
Besarnya peluang untuk meraih margin laba yang tinggi dalam bisnis makanan memang menjadi alasan utama bagi banyak investor untuk menanamkan uangnya di bisnis ini.
.:: Menakar Risiko Bisnis ::.
Sebenarnya, menurut Amir, ada banyak hal yang mesti dicermati baik oleh pemilik waralaba maupun calon pembelinya. Satu hal yang dianggapnya cukup penting adalah unsur keterbukaan dari pihak pemilik waralaba dalam kaitan dengan kinerja usahanya. "Mereka harus bisa menunjukkan laba ruginya dalam dua tahun berturut-turut dan bisa dicek," katanya.
.:: Pemicu Maraknya Bisnis Waralaba ::.
1. Longgarnya regulasi untuk bisnis waralaba yang ada. Saat ini hanya diatur dalam Peraturan Pemerintah dan SK Menperindag.
2. Tingkat keuntungan yang jauh lebih tinggi ketimbang suku bunga deposito.
3. Adanya bukti bahwa bisnis waralaba menguntungkan.
4. Tingginya minat para pemilik modal untuk ikut memiliki usaha dengan cara waralaba.
5. Sulitnya mengurus SDM dan pengawasan jika ekspansi bisnis dikelola sendiri.
6. Mempertahankan kelangsungan bisnis yang sudah dikelola selama puluhan tahun.
7. Pemilik waralaba bisa berekspansi tanpa memerlukan banyak modal.
8. Cara paling cepat mengangkat sebuah merek.
9. Potensi pasar yang masih terbuka.
10. Menciptakan sebuah pasar baru bagi sebuah produk.
Sumber : Milis franchise-indonesia@yahoogroups.com |
| |
|
| |
Bisnis Bumbu Masak Rumah Pengemasan Bogor |
| |

Liputan6.com, Bogor: Salah satu kekayaan alam Indonesia yang dikenal sejak lama adalah rempah-rempah. Komoditi ini menjanjikan peluang bisnis yang cukup besar. Salah satu kelompok usaha kecil dan menengah (UKM) yang jeli melihat peluang ini adalah Rumah Pengemasan Bogor, Jawa Barat. UKM binaan Pemerintah Kota Bogor ini mengubah rempah-rempah menjadi bumbu masak yang menjadi salah satu kebutuhan dasar rumah tangga.
Johan Wahyudi, sang pengelola, baru-baru ini, mengatakan Rumah Pengemasan Bogor memproduksi sekitar 150 kilogram bumbu masak serbuk tiap bulan. Proses produksi bumbu masak sebagian besar masih berlangsung manual dengan menggunakan tenaga manusia. Mulai dari pengupasan rempah-rempah sampai pengemasan bumbu masak jadi.
Johan mengakui rumah pengemasannya harus mendapatkan bahan baku dengan harga yang cukup tinggi. Permasalahan lain, adalah permodalan. Karena itu, pemasaran produk ini hanya dilakukan melalui pameran atau bazar. Setiap bulan, pihaknya bisa mengantongi omzet sekitar Rp 40 juta. Dengan daerah pemasaran meliputi Jakarta, Bogor, dan Tangerang, Banten.(MAK/Dewvina Oktora dan Budi Sukma) |
| |
|
| |
Ayam Goreng Fatmawati Menuju Johor |
| |
Sumber : Kompas
Rabu, 28 Januari 2004
AYAM goreng Fatmawati yang kini dapat dijumpai di sejumlah mall di Jakarta adalah restoran yang menjanjikan masakan khas Indonesia. Menu masakannya tentu saja bukan hanya ayam goreng tetapi juga menu-menu asli Indonesia lainnya seperti ikan goreng, ikan bakar, sate udang, sop iga, sayur asam, sambel ulek, ikan asin, lapapan dan berbagai jenis pepesan.
Ayam goreng Fatmawati yang semula dirintis Ny Fatmawati pada tahun 1990 di Kota Bogor hanya merupakan restoran tradisional, sekarang telah menjadi sebuah franchise yang dikelola secara profesional dengan nama perusahaan PT Ayam Goreng Fatmawati Indonesia atau PT AGFI.
“Tahun ini, selain di Jakarta, dan kota-kota besar lainnya di luar Jawa dan di Jawa juga sedang dipersiapkan untuk membuka restoran ayam goreng Fatmawati di Johor Malaysia dan disusul ke Brunei Darulsalam, “kata Ny Erliza Hambali pendiri PT AGFI, baru-baru ini.
PT AGFI didirikan oleh Ny Erliza Hambali, Ny Ratna Permanik dan Ny Fatmawati pada tanggal 28 Januari 2000. Dalam waktu kurang dari empat tahun, restoran ayam goreng Fatmawati tersebar di beberapa kota di Jawa dan luar Jawa.
Menurut Erliza Hambali, PT AGFI hadir untuk menciptakan lapangan kerja bagi tenaga kerja dengan pendidikan rendah, mengolah bahan baku lokal menjadi produk yang bergizi bagi masayarakat, melestarikan masakan tradisional, melestarikan produk peralatan dapur, dan restoran karya perajin lokal. Menciptakan pasar bagi petani dan peternak lokal.
Erliza Hambali yang juga peneliti pada Fateta (Fakultas Teknologi Pertanian) IPB (Institut Pertanian Bogor) mengatakan, keyakinan para pendiri PT AGFI mengembangkan bisnis jasa resoran adalah karena adanya pemikiran bahwa Setiap Orang Perlu Makan, apalagi mengingat situasi perkembangan perekonomian Indonesia pada awal tahun 2000 yang semakin membaik dibandingkan tahun-tahun sebelumnya.
Restoran Ayam Goreng Fatmawati, menurut Ratna Permanik, merupakan restoran cepat saji dengan teknik penyajian khas. Konsumen memilih sendiri masakan setengah matang yang disukainya seperti ukuran, warna, dan tampilan masakan agar pelanggan merasa lebih puas dan lebih merasa di rumah sendiri.
Ratna Permanik menambahkan menu andalan restoran ayam goreng Fatmawati adalah ayam goreng kuning, ayam bakar, dan ayam goreng pedas yang diolah secara khas dari berbagai rempah-rempah asli Indonesia yang meresap sampai ke tulang.
Erliza Hambali , peneliti Fateta IPB ini menambahkan, untuk menjaga mutu produk dan pelayanannya, dikembangkan sistem SOP (Standard Operation Prosedure)
SAAT ini, menurut Erliza, hampir semua produk masakan yang ditawarkan di Restoran Ayam Goreng Fatmawati telah menggunakan bumbu standar dalam bentuk powder. “Ini dilakukan demi menjaga kekonsistenan dalam hal citarasa masakan dan kemudahan pengelola restoran untuk mengolah masakan yang disajikan serta meningkatkan efisiensi dalam penggunaan bumbu masakan.
Dengan demikian dapat diharapkan bahwa penyimpangan citarasa antar restoran dapat ditekan seminimal mungkin, walaupun lokasi restoran terletak pada wilayah yang berjauhan bahkan terletak pada pulau yang berbeda," katanya. Bumbu untuk restoran ayam goreng Fatmawati dibuat di Bogor.
Erliza maupun Ratna mengatakan, pengembangan waralaba restoran Indonesia ini terutama ditujukan untuk membuka kesempatan berusaha kepada para pemula yang terjun berinvestasi di bidang pengelolaan restoran.
Ia mengharapkan melalui sistem waralaba ini risiko kerugian dan kegagalan bagi para pemula yang berusaha dibidang jasa restoran dapat diminimalkan.
Memasuki tahun ke empat, Erliza mengemukakan bahwa restoran ayam goreng Fatmawati telah berkembang menjadi 40 restoran yang tersebar di Jabotabek, Depok, Bandung, Batam, Pakanbaru, Singkawang, Samarinda. Bahkan di Jakarta, restoran ayam goreng Fatmawati dapat ditemui di sejumlah mal. Ia ingin bisnis lebih berkembang dan berkembang.
“Dalam waktu dekat direncanakan membuka restoran di Medan, Surabaya, Bali, Balikpapan, Bojonegoro, Dumai, Palembang, Jambi, Bontang, Banjarmasin, Yogyakarta, Solo, Semarang, Tuban, dan Johor Malaysia serta Brunei," kata Erliza
Dengan nada gembira para pendiri PT AGFI mengatakan, saat ini restoran ayam goreng Fatmawati yang dikembangkan secara waralaba mencapai jumlah 40. Jumlah sebanyak ini merupakan yang terbanyak di Indonesia . “Dan kami optimis akan terus berkembang jumlahnya," kata Erliza
Adapun jumlah karyawan yang terlibat dalam kegiatan operasional restoran ayam goreng Fatmawati ini, menurut Erliza, mencapai 500 orang, dengan tingkat pendidikan SD sampai S1. Para lulusan SI bertangungjawab menjalankan menajemen. Adapun karyawan yang berpendidikan agak rendah menjalankan tugas-tugas rutin di dapur dan di restoran. (PUN) |
| |
|
|
|